Depresi Orang Tua Mengganggu Perkembangan Anak

ANAK-ANAK tumbuh dan belajar dengan meniru apa yang dilakukan orang sekelilingnya, terutama orangtuanya. Saat orangtua merasa depresi, anak akan merasakannya juga.

Anak-anak yang memiliki orangtua dengan gangguan cemas, berisiko tujuh kali lebih tinggi untuk mengalami kecemasan pula. Demikian halnya jika orangtuanya mengalami depresi, sang anak juga lebih rentan mengalami depresi. Berpijak pada hal tersebut, dua studi terbaru menyarankan konsultasi kepada terapis untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan mental terhadap anak dan remaja. Keduanya berfokus pada terapi perilaku kognitif agar tidak menjadi lingkaran setan tak berkesudahan.

Sebuah laporan terbaru dari National Research Council and the Institute of Medicine di Amerika menyarankan penyedia layanan kesehatan untuk menaruh perhatian atas pengaruh depresi orangtua terhadap anak-anak. Rancangan terapi dengan pendekatan personal juga perlu disosialisasikan.

Selama ini, konseling depresi dan program perawatan umumnya dirancang hanya untuk kasus depresi perorangan. Padahal, jika depresi ini dialami orangtua dalam sebuah rumah tangga, seluruh anggota keluarga bisa ikut terkena imbasnya, terlebih anak-anak. “Untuk menyelisik alur depresi dan dampaknya, kita harus melihatnya dengan lebih luas dalam konteks keseluruhan anggota keluarga, bukan hanya depresi individual,” ujar psikiater Jane England dari Regis College di Weston Mass.

“Studi kami menggambarkan visi baru bagi penanganan depresi yang menyediakan layanan komprehensif bukan hanya bagi orangtua, melainkan juga anak-anaknya. Pandangan ini dapat mengubah paradigma kebijakan yang selama ini berlaku,” imbuhnya perihal studi yang diterbitkan Rabu (10/6).

Laporan studi tersebut juga menyebutkan bahwa satu dari lima orangtua di Amerika mengalami depresi rutin, dan sekitar 15,6 juta anak-anak usia kurang dari 18 hidup dengan orang dewasa yang mengalami depresi mayor dalam setahun ke belakang.

Depresi mayor merupakan gejala depresi berat dan bersifat unipolar. Sekali waktu sembuh, lalu depresi lagi. Gejala yang timbul antara lain mudah sedih dan marah, berkurangnya minat terhadap aktivitas yang dulu disenangi, perubahan nafsu makan secara signifikan, serta sukar atau malah banyak tidur. Gejala lainnya, fisik melemah serta ada perasaan tak berguna atau bersalah dan sukar konsentrasi. Pada tahap tersebut, pikiran untuk bunuh diri sering muncul hingga memicu tindakan bunuh diri.

Secara umum, depresi pada orangtua tidak secara langsung membahayakan anak-anaknya. Namun, sejumlah studi menunjukkan bahwa manakala orangtua berada dalam kondisi depresi, kecenderungan anak-anaknya mengalami gangguan kesehatan, perilaku, dan emosional juga meningkat.

Kendati penyedia jasa kesehatan profesional telah beriktikad baik melibatkan seluruh anggota keluarga dalam rancangan terapi, adakalanya kendala datang justru dari si pasien depresi itu sendiri. Hanya sekitar sepertiga orang dewasa yang berupaya mencari pertolongan psikologi ataupun psikiater untuk mengatasi kondisi depresi yang dialaminya. Padahal, jika orangtuanya saja malas mencari solusi atas depresinya, apalagi anak-anaknya yang secara tidak langsung ikut terimbas depresi orangtuanya.

Untuk itulah, saat konseling, petugas medis hendaknya menanyakan pasiennya yang mengalami depresi, bilakah mereka punya anak dan melihat adanya dampak depresi terhadap buah hatinya itu. Untuk melindungi anak-anak dari pengaruh negatif depresi orangtuanya, studi ini juga menyarankan Centers for Medicare & Medicaid Services (CMS) memperluas bantuan medisnya bagi ibu yang baru melahirkan hingga dua tahun setelah melahirkan, yang mana merupakan periode kritis risiko berkembangnya depresi, seperti yang dikenal sebagai sindroma setelah melahirkan (baby blues).

Lebih lanjut, upaya penanganan depresi hendaknya juga lebih dipermudah, bukan hanya dalam hal tenaga medisnya; fasilitas serta ketersediaannya pun di berbagai tataran lingkungan seperti di sekolah, komunitas, termasuk trik penanganan yang dapat diaplikasikan di rumah tangga masing-masing.

Judy Garber dari Nashville’s Vanderbilt University menilai bahwa masa remaja merupakan saat paling tepat untuk mulai belajar mengatasi depresi. “Berdasarkan pengakuan orang dewasa yang mengalami depresi, mereka mengatakan bahwa depresinya dimulai sejak remaja,” sebut dia. Garber melalui studi yang diterbitkan dalam Journal of Consulting and Clinical Psychology bulan ini, melaporkan bahwa sekitar 1 dari 5 anak remaja mengalami depresi saat menginjak usia 18. “Anak yang depresi biasanya bermasalah di sekolahnya dan risiko bunuh diri pun meningkat,” ungkapnya.

Studi Garber berfokus pada remaja berisiko tinggi yang orangtuanya juga memiliki riwayat depresi. Dari 316 partisipan remaja yang terlibat dalam penelitian ini, semuanya mengaku pernah mengalami depresi atau mengalami beberapa gejala depresi.

Secara acak, separuh dari jumlah partisipan tersebut diminta mengikuti terapi kelompok yang diadakan tiga bulan sekali selama sembilan bulan. Pada sesi yang cukup panjang ini, orangtua juga dapat belajar bagaimana menyadari sesuatu yang telah mereka lakukan yang mungkin berdampak negatif terhadap anaknya, misalkan terlalu mengekang atau khawatir berlebihan.

Hasilnya, setelah sembilan bulan, remaja yang mengikuti terapi kelompok menunjukkan gejala depresi lebih sedikit dibandingkan mereka yang menjalani terapi umum, tapi tidak mengikuti terapi kelompok tersebut. Setelah setahun, tidak satu pun dari anakanak yang mengikuti terapi tersebut menampakkan gejala cemas.
Akan tetapi, menurut Garber, program pencegahan tidak akan membantu bila orangtua si anak masih dalam kondisi depresi.

“Anak yang memiliki orangtua depresi mungkin merasa gamang karena orangtuanya tidak mampu menyemangati dan memenuhi harapannya,” komentar Bryan King, direktur bagian psikiatri anak dan remaja dari RS Anak Seattle di Amerika.

Terkait aspek genetik sebagai salah satu faktor risiko depresi, anak-anak mungkin saja mewarisinya dari kelakuan negatif orangtuanya. Sekali lagi, ingatlah bahwa anak-anak belajar dengan meniru.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s